Proses Penglihatan

2.2 Proses Penglihatan

Setelah Anda mengetahui masing-masing bagian dari organ mata di atas, apakah Anda dapat menjelaskan bagaimana proses penglihatan dapat terjadi?

Cahaya merupakan salah satu dari suatu spektrum gelombang elektromagnetik. Panjang gelombang cahaya adalah 400-700nm yang dapat merangsang sel batang (rod cell) dan kerucut (cone cell) sehingga dapat terlihat oleh kita. Gelombang cahaya antara 400-700nm ini akan terlihat sebagai suatu spektrum warna, yaitu :



Apabila ada rangsang cahaya masuk ke mata maka rangsang tersebut akan diteruskan mulai dari kornea, aqueous humor, pupil, lensa, vitreous humor dan terakhir retina. Kemudian akan diteruskan ke bagian saraf penglihat atau saraf optik yang berlanjut dengan lobus osipital sebagai pusat penglihatan pada otak besar. Bagian lobus osipital kanan akan menerima rangsang dari mata kiri dan sebaliknya lobus osipital kiri akan menerima rangsang mata kanan. Di dalam lobus osipital ini rangsang akan diolah kemudian diinterpretasikan. Sehingga apabila seseorang mengalami kecelakaan dan mengalami kerusakan lobus osipital ini maka dia akan mengalami buta permanen, walaupun bola matanya sehat.

video

copied and modified from HERE
(http://www.youtube.com/watch?v=nspVjwAnGb4)

(perhatikan juga "animasi mata" pada menu animasi untuk memperjelas pemahaman anda atau
klik di sini)


Pembiasan cahaya dari suatu benda akan membentuk bayangan benda jika cahaya tersebut jatuh di bagian bintik kuning pada retina, karena cahaya yang jatuh pada bagian ini akan mengenai sel-sel batang dan kerucut yang meneruskannya ke saraf optik dan saraf optik meneruskannya ke otak sehingga terjadi kesan melihat. Sebaliknya, bayangan suatu benda akan tidak nampak, jika pembiasan cahaya dari suatu benda tersebut jatuh di bagian bintik buta pada retina.

Mari belajar bintik buta dan kerjakan latihan soalnya, klik di sini!
!



Adaptasi terang dan gelap
Bila seseorang berada di tempat terang untuk suatu waktu, sebagian besar Rhodopsin dan Iodopsin akan terurai walaupun sebagian iodopsin akan segera diresintesa kembali. Hasilnya ialah pengurangan sensitifitas terhadap cahaya. Kita menyesuaikan diri dengan keadaan terang itu dan tidak merasakan silau. Peristiwa ini disebut adaptasi terang.

Sekarang kita coba masuk ke ruang yang agak gelap, maka mula-mula kita tidak dapat melihat apa-apa karena iodopsin yang ada tidak bereaksi dengan cahaya remang-remang. Tetapi kemudian rhodopsin disintesa kembali dan retinen dan scotopsin dan kita mampu melihat bayangan dan benda-benda. Peristiwa ini disebut adaptasi gelap.

Bila kemudian kita masuk lagi ke ruangan yang terang maka yang terasa pertama-tama adalah silau karena semua rhodopsin dan iodopsin terurai, timbul impuls yang bertubi-tubi yang menyebabkan silau. Kemudian terjadi lagi adaptasi terang.